[.b.l.o.g.]
Sunday, January 21, 2007
What is Your Measure of SUCESS?[.chat msn online.]
Miss A: Aduh, gue uda males banget kuliah neh. Capek banget. Pengen maried aja.
Miss B: Beuh. Ngapain sih maried? bikin cape aja. Gue sih malah kagak kepikiran sama sekali maried dalam rencana masa depan gue.
Miss A: married nggak seburuk itu kali, M
Miss B: Tahulah. Tapi gue belom kepikiran aja.
Miss A: Emang rencana loe di masa depan apa?
Miss B: Gue sih pengennya jadi wanita karir sukses. You know.. yang bisa punya segalanya yang dia pengen. Bawa mobil bagus, kerjanya bolak-balik luar negeri, good carier, a lots of money, bawa2 handphone dan laptop terbaru, wajah cantik, body oke, otak lumayan. Kalo weekend baru ada di cafe-cafe atau di restoran2 mewah buat tasted something new. Terus punya apartemen sendiri yang keren. Belanja baju dan sepatu di Zara, Hush Puppies... ato klo income lagi banyak, boleh manjain dikit pake esprit ato Guess. Gue nggak butuh tas2 prada atau apa. Terus uda gitu dua minggu sekali pasti ke salon, buat ngerawat penampilan. Oh shit... keren banget kali ya cewek2 gitu?
Miss A: Tapi... apa loe yakin klo loe uda miliki itu semua loe bisa bahagia?
Miss B: Mm... entah. Mungkin. Loe punya uang banyak... dan selama ini, gue ngerasa gue nggak bisa bahagia tanpa uang.
Miss A: Money can't give you happiness...
Miss B: but they can buy me one.
Miss A: Menurut loe apa ukuran seorang sukses sih?
Miss B: Mm... seperti yang gue cita-citakan tadi?
Miss A: Kalo gitu seorang single mother yang harus kerja siang dan malam tapi masih bisa ngajak anak-anakya ke mal itu bukan sukses dong..
Miss B: Depends on... how rich she is..
Miss A: Ck, dasar mata duitan. Semuanya diukur dari kekayaan...
Miss B: Hey.. don't blame me. Blame the world. Mau nggak mau loe melihat bahwa kesuksesan seseorang di dunia diukur dari materi-nya, kan? Coba loe liat Bill Gates. Menurut loe dia sukses gak?
Miss A: Hm, sukses sih...
Miss B: nah! itu yang gue maksud! Loe nggak bakal peduli bahwa keluarganya bahagia atau kaga, tapi yang pasti, menurut pandangan dunia dia SUKSES kan...?
Miss A: Yeah... sukses itu relatif...
Miss B: Depends on what point of view you wanted it to be. Apa loe mau di POV dunia atau POV kebahagiaan... dan karena gue melihat sukses dari POV dunia, ya... gue kayak gitu pengennya...
Miss A: :-) Hopefully.. loe bisa bahagia dengan kelimpahan materi itu.
Miss B: Hahaha.. udahlah. Jangan dipikirin lagi. Kuliah aja kita berdua blom lulus... masih lama itu. Gue bisa berubah di tengah jalan. Sapa tahu gue malah ended up jadi aktivis lingkungan yang SUKSES... meski nggak ada duitnya sih :-P
Miss A: Yeah... (^_^) satu hal yang pasti, sukses-nya kita atau nggak, nggak bisa ditentukan orang tapi... kita sendiri. Moga2 kita berdua sukses ya nantiiii...
Miss B: sep! (^_~)
('_,')
Saturday, January 20, 2007
Semu
Pernahkah loe merasa takut kalau semua di dunia ini adalah sesuatu yang semu?
Pernahkah loe berharap bahwa hidup loe hanyalah mimpi buruk dan loe bakal terbangun suatu saat nanti, berharap bertemu dunia yang lebih indah?
Karena kalau loe belum pernah, berarti... gue gak tahu apa yang terjadi sama hidup loe. Mungkin loe bahagia dengan kehidupan loe atau loe sudah pasrah dengan kehidupan loe apa adanya.
Ini adalah sebuah kisah. Mungkin loe uda liat postingan gue yang terakhir. Mungkin loe bingung, siapa sih yang bisa segitu gilanya sampe mau bunuh diri hanya karena sebuah perceraian. Mungkin loe pikir, itu hanya cerita biasa, tapi sebenarnya... NGGAK. Itu bukan cerita biasa, mungkin ¼-nya hanya fiksi, tapi ya…itu cerita benar. Karena cerita itu adalah sebuah cerita yang diinspirasi dari teman gue. Teman yang sangat baik...
Dan nggak. Dia nggak bunuh diri. Dia bilang, dia nggak punya nyali untuk itu.. meski terpikir dalam pikirannya.
Hari ini dia nelepon gue. Suaranya datar seakan semua ekspresi telah hilang darinya. Otaknya kosong dan tawanya sudah bukan tawa yang gue kenal lagi... Gue rasa, she is losing her self. Her personality. Her happiness.
"Loe nggak pa-pa?" tanya gue.
Dia tertawa kecil. "Bukankah seharusnya gue tanya itu eloe, Re? Eloe yang nangis pas denger berita tentang perceraian orang tua gue."
"Ya justru itu yang nyeremin! Eloe kagak nangis sama sekali."
Dia mendengus sinis. "Air mata gue uda abis, Re. Gue uda gak tahu apa yang mau gue tangisin lagi."
Gue terdiam. Gue nggak tahu apa yang harus gue katakan ke dia. Gue nggak pintar menghibur orang. Gue cuma bisa menenangkan, mendiamkan dan menjaga rahasia. Itu-lah yang gue pintar. Gue cuma bisa sebagai pendengar.
"Re, bonyok gue ke konsultan pernikahan."
"Oh..." Aku diam lagi. "Bagus dong... Sekarang lagi pergi?"
"Nggak. Uda balik dari kemaren."
"Dan...?"
"Dan gue takut, Re..." dia berbisik, suaranya sangat gemetar. "Gue takut banget..."
"Takut apa?" mau tak mau, jantung gue juga ikut berdetak kencang. Dia teman gue dari kecil dan gue tumbuh besar sama-sama dia. Orang tua dia, orang tua gue juga. Gue kenal orangtuanya. Orangtuanya adalah orangtua yang paling harmonis menurut gue. Setiap dateng ke rumah-nya, orangtuanya mesra, selalu penuh senyum dan sayang dan... ya, tentu saja gue bingung kenapa tahu-tahu mereka mau cerai.
Rupanya dalam kehidupan orang yang paling sempurnapun akan selalu ada rahasia. Ada selalu kesemuan.
"Memangnya mereka kenapa?" tanya gue, tak bisa menahan rasa ingin tahu gue.
"Mereka balik seolah gak terjadi apa-apa, Re! Dan itu membuat gue gila! Mereka ketawa satu sama lain, mereka nggak ngomong-ngomong apapun soal pertengkaran waktu itu dan.. dan~"
"Bukannya itu hal yang baik?"
"Nggak!" dia membentakku dalam bisikan. Dia terdengar sangat depresi, membuat gue mengerutkan dahi. Pertemanan selama 15 tahun gue sama dia ternyata tidak membuat gue mengerti dia sepenuhnya. Apa sih yang dia takutkan kalau keluarganya balik lagi? Bukannya hal itu hal yang bagus?
"Kenapa 'nggak'?"
"Karena ini nggak beres!" jawabnya. "Re, robekan alkitab itu masih ada di laci gue. Masih gue simpen. Masih gue tangisin tiap malam dan... ini seakan seperti mimpi! Mereka balik, mereka ketawa, mereka bersikap seolah~Ck!" dia berhenti sesaat. "SEOLAH NGGAK ADA APA-APA, Re!"
"Oke... oke.. tenang..."
Dia terdiam. Gue bisa mendengar napasnya menderu.
"Kenapa loe beranggapan seperti itu? Kenapa loe takut?" tanya gue.
"Karena, Re, orang yang bertengkar sebegitu parahnya takkan bisa kembali setenang ini seakan tidak terjadi apa-apa dan kenapa gue takut... alasannya adalah ini TERLALU TENANG. Loe tahu, kan, Re... kadang-kadang kesunyian berlebihan itu adalah tanda bahwa akan ada sesuatu dan itu yang gue takut! Ini seakan sebuah kepura-puraan yang mereka usahakan. Sebuah sandiwara yang sedang mereka coba. Dan suatu saat nanti, saat mereka sudah nggak tahan lagi... mereka akan meledak lagi dan gue merasa ini hanyalah seperti bom waktu, Re. Bom waktu yang akan meledak lagi suatu saat.
"Sejak pertengkaran kemaren, gue nggak pernah ngeharepin lagi yang namanya ketenangan. Gue nggak pernah ngeharepin lagi kebahagiaan dalam keluarga, dan sekarang tahu-tahu..."
Suaranya berubah. Dia mulai terisak. "Sekarang tahu-tahu... mereka menawarkan gambaran keluarga bahagia lagi ke gue dan gue takut, Re... takut suatu saat... kalau gue uda terlena lagi... terus mereka meledak... Gue akan terbangun lagi dan loe tahu.. bangun dari mimpi yang begitu indah sangat nyakitin hingga rasanya loe lebih baik mati!"
"Oh, God... I think this is starting to killing me slowly!" dia berseru di ujung telepon kemudian dia terisak-isak lagi.
Gue hanya bisa terpekur, tak tahu harus mengatakan apa kepadanya. Gue tahu perasaan sakit itu. Perasaan ketika loe merasa semua sudah mulai membaik dan semuanya tahu-tahu dihempaskan lagi ke depan loe, membuat loe menyadari bahwa... dunia ini nggak akan pernah baik. Dunia ini hanyalah sebuah kesemuan belaka.
Dan gue benci kenapa teman deket gue yang harus ngalamin ini.
"Loe tenang aja dulu," akhirnya gue mampu menemukan suara gue yang sempet hilang. "coba aja ikutin dulu kemana arahnya. Perhatiin. Siapa tahu bonyok loe sedang berusaha menyembuhhkan diri, Say. Mereka sedang mencoba mempertahankan pernikahan mereka. Mereka kan juga mencoba demi eloe. Demi ade-ade loe juga..."
"Tapi gue takut, Re... gue takut banget... Gue takut kalau suatu saat nanti ini akan terjadi lagi dan jujur, Re, kalau sampe ini terjadi lagi, gue uda nggak tahu bagaimana harus ngadepinnya."
"Loe kan kuat, Say. Loe jauh lebih kuat dari gue." Dia diam saja. "Elo pasti bisa! Ini cuma rintangan kecil dari seluruh hidup loe."
"Tapi, Re~"
"Jangan melarikan diri. Itu yang harus loe inget. Sesakit apapun, sesenang apapun... pokoknya apapun keadaannya... coba bertahan! Coba lihat dan ikuti aja. Dengan begitu, loe bisa meyakinkan diri loe klo loe masih ada di dunia nyata. Bukan mimpi..."
Gue bisa dengar tangisnya mereda di ujung sana. Kalo gue bayangin, gue rasa dia sedang senyum.
"Yeah..." akhirnya dia berujar. "Gue mesti cuci piring. I'll call you later. See ya, Sis..."
"bye."
_______________________________________
Jadi... pernahkah kalian merasakan hal di atas?
Takut akan kebahagiaan, takut kalau semua itu akan berakhir....?
Seperti permainan 'Mama Janji', tapi janji itu tidak pernah ditepati, iya kan? Seperti kenangan masa kecil dimana kita dijanjikan untuk ke DUFAN, bersenang2, tapi ketika hari H tiba, ketika semua persiapan telah kita siapkan, tapi tahu-tahu... mama kita berkata 'Sorry, Nak. Mama ada meeting'... Bagaimana sih rasanya? Itu mungkin hanya kekecewaan kecil, tapi gue tahu yang dirasakan teman gue itu adalah LEBIH dari itu.
Lebih lebih menyakitkan.
Yang gue tahu, semua hal di dunia ini adalah semu. Kita semua memakai topeng. Bahkan, orang yang paling kita kenal baikpun... memakai topeng. Karena apa?
Karena topeng untuk melindungi diri kita. Kita ini rapuh. Kita takut tidak disukai orang. Kalau kita memakai topeng, kita akan disukai mereka. Tapi sayangnya...
Yang tak pernah kita pikirkan adalah...
Saat kita melepas topeng kita... mungkin... akan ada yang terluka.
Terutama orang terdekat kita.
('_,') ciao...
Friday, January 19, 2007
Numb
a story by R.E.A

Tik tok tik tok
Ruangan itu begitu sunyi. Hanya terdengar bunyi detik jam.
Sungguh aku berharap ini hanyalah mimpi.
Tik tok tik tok
Entah sudah berapa banyak air mata yang ku keluarkan. Entah sudah berapa teriakan yang sudah kuteriakan. Entah seberapa kemarahan, kekecewaan, kebencian, semuanya bercampur menjadi satu.
Tik… tok…
Satu-satunya yang membuatku menyadari, bahwa ini bukanlah mimpi adalah…
Robekan alkitab.
Tok…tik…
Alkitab yang kurobek, sebagai tanda protesku terhadap Tuhan. Protes atas ketidakadilan-Nya.
tik tok tik tok tik tok…
Keluarga kami, dulunya, adalah keluarga sempurna yang bisa ditemui. Mesra, penuh canda dan tawa, hangat…
Tapi sekarang…
Tik tok tik tok tik tok…
HANCUR!
Semuanya palsu! Semuanya bohong! Semua yang kita doakan setiap malam, ucapan syukur atas keluarga penuh kebahagiaan meski keluarga ini sedang dirundung masalah ekonomi, ucapan terimakasih karena telah memberi keluarga ini… semuanya DUSTA!
Tik tok tik tok tik tok…
“Mama memutuskan untuk berpisah dengan Papa. Mama cape…”
“Papa pikir, Papa sedang kehilangan Mama kamu…”
SEMUANYA PALSU! Hanya sekadar SANDIWARA!!!
Aku tidak pernah menyangka perceraian ini akan datang. Setelah 20 tahun pernikahan yang nampak bahagia…
Tik…tok… tik… tok…
Aku sudah tak bisa menangis. Airmataku sudah terkuras. Pikiranku berlari ke sana ke sini, mencoba melarikan diri dari kenyataan.
Terbersit dalam pikiranku, apa aku harus mati?
I've
become so numb
I can't feel you there
“Nak, buka pintunya, Nak! Kamu jangan macem-macem!” teriakan terdengar dari luar pintu kamar.
Tapi sayangnya, aku sudah tidak mendengarnya.
I've become so tired
so much more aware
Apakah aku bisa pergi ke dunia nyata? Bukan di dunia yang penuh mimpi buruk ini? Mungkin, meskipun di sana jauh lebih buruk, tapi setidaknya aku tahu itu nyata. Aku tahu itu bukan bohong…
Prang!
Cermin itu pecah setelah dilempar dengan piala kebanggaanku. Piala yang mengingatkan masa-masa penuh dusta.
“Nak, buka pintunya, nak!!! Papa mohon!!!”
I'm becoming this
all I want to do
Aku mengambil sebuah pecahan kaca yang berceceran di lantai, menaruhnya di atas pergelangan tanganku. Untuk terakhir kalinya, kupejamkan mataku lalu kubuka kembali, berharap ini semua hanyalah sebuah mimpi tapi sayangnya…
Robekan alkitab itu masih ada sebagai pengingat bahwa yang terjadi bukanlah mimpi.
Aku terdiam.
Yang menyakitkan bagiku bukanlah perceraiannya, namun… sebuah dusta di baliknya.
is be more like me
and be less like you.
***
“Nak! Buka pintunya, Nak! BUKA!”
Brak!
Pintu itu didobrak, ditendang begitu saja oleh sang ayah, namun seketika pintu itu dibuka, dia berharap bahwa dia tidak pernah membuka pintu itu.
Anak gadisnya terbaring tak bernyawa di lantai dengan darah menetes dari pergelangan tangannya sementara ratusan serpihan kertas serta foto yang dirobek, bertebaran di sekitarnya, seakan menjadi bunga untuk menghantarkan kematiannya.
Pria itu langsung berteriak, menangis sejadi-jadi, menghampiri tubuh anaknya yang masih hangat.
“Nak!!! Bangun, Nak! Kenapa kamu lakukan ini sama Papa, Nak?!!”
Salah. Bukankah seharusnya sang anak yang bertanya, “Kenapa kalian lakukan ini terhadap aku?”
Tapi sayangnya, sang anak sudah tiada untuk menanyakan hal itu.
Hanya ada sebuah foto yang terus ia peluk. Sebuah foto saat dia dan adiknya baru berumur 7 dan 5 tahun. Sebuah foto saat keluarga mereka bahagia. Entah bahagia benar atau hanya kesemuan.
Bahkan hingga saat terakhirnya, ia masih menginginkan itu.
P.S: Wow... dark banget ya short storynya. Tahu neh, tahu2 lagi pengen bikin cerita yang agak2 dark gitu... heheh :-D semoga loe bacanya kagak merinding ya...
Wednesday, January 17, 2007
DO YOU HATE STARBUCKS?

gue baru saja jalan-jalan di web and menemukan sebuah website www.ihatestarbucks.com dan sampe sekarang, gue gak tahu ternyata ada jutaan-- oke itu berlebihan-- mungkin ratusan ribu orang di dunia ini yang benci dengan Starbucks.
Uh-oh... ternyata dunia memang aneh ya?
Banyak sekali fakta-fakta yang gue baca, membuat gue meragukan tentang Starbucks. Loe bisa checkout sendiri ke web-nya. Hehe... too much soalnya. Dan gue sampe sekarang hanya FEEL FUNNY about hating starbucks.
Mungkin emang benar. Starbucks adalah franchise pertama yang membuat orang tergila-gila akan kopi dan 1 cup kopi starbucks di sana adalah 20 dollar.
Yup. 200ribu jika kita coba hitung di rupiah. Dan orang Amerika mengeluh bahwa sebuah cup of Starbucks cofee lebih mahal dari bensin.
Kami, orang Indonesia, menyetujui hal itu.
Tapi masalahnya adalah... kita nggak buang-buang waktu untuk MEMBENCI STARBUCKS. Buat gue, starbucks hanyalah masalah gaya hidup. Mungkin loe gak suka kopi tapi loe butuh STARBUCKS buat updgrading kelas loe. Loe butuh starbucks buat duduk-duduk, sekedar mejeng dengan laptop, untuk memenuhi image gambaran tentang seseorang eksekutif sukses atau penulis desperate.
Nah, kalo dipikir-pikir lagi, siapa yang membentuk image-image itu?
Media tentu saja. Kalau begitu, kenapa kita tidak mendirikan IHATEALLMEDIAS.com lalu berhentilah nge-blog karena blog juga termasuk MEDIA.
Oh, well... dunia memang aneh.
Sebenernya, gue nggak mentingin kopi itu gimana rasanya. Meski gue bukan pecinta kopi, tapi gue cukup menyukai kopi kok. Maksud gue, mau starbucks atau cuma nescafe ice, ini gak jadi soal. About taste, I can make nescafe ice tasted the same like starbucks. As I told you before, it's all about LIFESTYLE.
Tanpa kita sadar, minum kopi sambil nongkrong dan ngobrol di cafe yang cozy, diiringi musik jazz, itu telah menjadi standar hidup atau lebih tepatnya kebutuhan hidup kita. Entah apa yang kita butuhkan dengan melakukan itu--melepaskan stress atau sekadar gaya-- tapi.. ya mau tidak mau kita akui.
Ketika gue nongkrong, gue akan cari tempat yang enak dan sebenarnya kedai kopi yang paling enak buat duduk nongkrong--kebanyakan-- adalah STARBUCKS. No suprise, huh? Kecuali starbucks TA dan EX... GUE NGGAK SUKA. Tempat nongkrongnya gak asik. Padahal yang dijual oleh starbucks--selain kopi penuh LEMAK-nya- adalah view serta suasana cafenya.Tapi, anehnya... starbucks TA dan EX tetep aja penuh. Kagak pernah kekurangan pengunjung. Jadi sebenernya, apa sih kelebihan dari starbucks?
Jawabannya kembali lagi pada LIFESTYLE. AND lIFESTYLE mean: BRAND!
Masalahnya pada masyarakat urban Jakarta bukan lagi mengenai minum kopi dan duduk-duduk. Itu mah bisa dilakukan di rumah atuh, neng. Tapi ini mengenai merk. Mengenai sebuah brand yang ada di ALL-OVER the WoRLD. Seperti yang gue kutip dari catatan harian 'I BEG YOUR PRADA', kita bangga bisa minum kopi yang sama dengan yang diminum oleh Richard Gere, Julia Roberts, or whoever deh. You named it.
Coba, banggaan mana... nenteng2 gelas Starbucks atau nenteng2 gelas Cafe Oh Lala...? Padahal minuman di kafe oh lala gak kalah tasty loh...
Even though gue uda baca tulisan-tulisan di Ihatestarbucks.com, tetep aja gue gak bisa hate starbucks.
Habis, tempat mana lagi yang bisa naekin kelas, ngeceng eksekutif muda, santai-santai sambil nikmatin kopi oh ya... dan boleh duduk SEPUASNYA sampe pantat ambeyen. Bahkan boleh tidur pula!
Terlepas dari harga kopi asli Starbucks...taruhlah 5000 ato paling mahal 10000, tapi... ngeceng eksmud (memungkinkan elo juga dapet cowok eksmud yg lagi nyari mangsa) dan naekin kelas itu ada harganya sendiri loh...
Menurut gue...cukup pas.
Masuk DUFAN yang bikin aus dan lompat-lompatan aja bayar goban. Why not a cup of coffee but with all the benefit you got?
Especially their nice sofa.
So... my question is... CAN YOU HATE STARBUCKS? because I can't and I don't.
but I don't love them, though. Just put me on the neutral side. Wherever you can find nice cozy cafe, eventhough it's not starbucks, I'll fine. For me, the most important is... the SOFA.
Tadaa!
HIM? MAKE A PUDDING?! ARE YOU on DRUG?!Hari ini, di sore yang cerah, di rumah gue, terjadilah sebuah percakapan paling konyol di awal tahun baru 2007 ini.
Gue *lagi ngaduk puding*
Timothy *dateng kucuk2 ke nyokap*: Ma, ajarin bikin puding rasa kopi dong... hihihi *ngikik najis gak jelas* terus nanti dimasukin ke dalem cetakan hati-hati... oh ya ngomong-ngomong cetakan hati ada gak sih?
Gue: *memandang ade gue dengan najis* Mot, can you stop being OBSESED with handmade gift for GIRLS?!!! *rolling my eyes*
Timothy: Ih sirik aje!
Nyokap: Eh, mot, mendingan sekarang eloe... cepet-cepet ke Jalan Sayur Mayur kasih tahu tuh ya ke dia suruh bikin PUDING HATI-HATI
Gue: *pura-pura gak tahu* Hah siapa? (padahal gue tahu WHO yang nyokap gue maksud)
Timothy:Ih.. dia nanti malah dikasih sangsang
Gue: DIAMMM!!! *memerah karena malu*
Nyokap: Halah.. kalo sama dia mah boro-boro di kasih puding hati-hati, malah nanti dibentak-bentak di omelin..
Gue: Ck.. Udah deh... *langsung mengalihkan perhatian* Duh, Tuhan... Kapan dikasih cowok yang romantiss?!!?!?
Nyokap:Orang mah kagak punya cowok enjoy-enjoy aja, ini malah dipusingin..
Gue: Ya kagak sih.. Bete aja...
Timothy: Lagian baguslah kagak punya cowok. Demi kesehatan serta kelangsungan hidup setiap umat pria di muka bumi ini...
Gue:Sialan loe, MOTIII *ngejer2 Moti pake centong kayu*
Duh aneh banget sih... masa KTS gue disuruh bikin PUDING?!! Are you guys on DRUG?!! Ceweknya sakit aja dia males telepon, apalagi gue yang... yang...
NOTHING TO HIM... kecuali term "temen baik"-nya masih berlaku.
*jeduk-jeduk kepala*
Huhu...
Tuesday, January 16, 2007
New Skin, New Trouble?Oh my god...
gue dapet BLOGGER baru padahal gue gak punya satupun email account GOOGLE..
duh parah gak tuh??
Btw, gimana dengan perubahan skin? oke gak? Hehe... coba liat2 dulu aje.. HOHOHO..
Senangnya hatikuw.. :-D
Tuesday, January 02, 2007
..:: Unlucky New Year::..Just don't ask about my new year... It's been bad enough and it will be worst if you ask about it... so.. you better shut up about it.Gue berakhir terdampar di malam penuh doa selama 3 jam oleh sodara-sodara gue yang punya kefanatikan terhadap Tuhan tingkat tinggi.Oke, bukannya gue gak cinta sama Tuhan dan GAK MAU berdoa, tapi.. please..LOE BERDOA SELAMA 3 JAM!!!Gue rasa bentar lagi mata gue nempel dan berakhir gue buta karena mata gue uda gak bisa dibuka.Haha. Quiet funny.Uda gak kebayang berapa kali gue nguap and look very impolite of course but.. WHO CARES?!Btw, tahu gak kenapa gue tadinya males banget ke rumah sodara gue yang satu ini?1. Gue uda tahu acara doanya bakal lamaDan yang kedua...2. GUE MALES KETEMU INCEST!Oke, mungkin gue belom cerita tentang sodara gue yang satu ini. Yup, dia sodara yang mengkhianati tali persaudaraan di antara kita dan berusaha mendapatkan gue.Rite, go to hell.Karena tentu saja berakhir tidak baik dan menyebabkan gue merasa sedikit--hanya sedikit saja-- tidak enak.Untungnya dia kaga dateng.. *fiuf*Ya sudahlah. Itu aja kilasan gue mengenai acara tahun baru TERTOLOL yang pernah gue rasain karena... gue berakhir keliling2 komplek sama cici dan ade gue cuma demi nyari kembang api.Dan lebih na'asnya lagi, orang yang pertama kali gue ucapin selamat tahun baru adalah satpam komplek yang curiga gara2 gue muter2in komplek orang berkali-kali.oh oh oh ohhh..... TUHAN.... apakah ini indikasi bahwa tahun 2007 gue akan SIAL?!!!Omong2... gue akan balik ke Depok untuk OSPEK... huhuhu... NASIB! jadi tanggal 3-7 januari, kalau setelah itu tidak ada kabar dari gue, artikan saja kalau gue uda WAFAT.Ciao, R.E.A